IRT Cabuli Anaknya yang Masih Balita, Direkam Lalu Videonya Dikirimkan kepada Suami



NHJ (43), seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyetubuhi anak kandungnya yang masih berusia 2 tahun. Dia beralasan terlalu lama berpisah dengan suami saat pandemi Covid 19. Kasubdit IV Remaja Anak Wanita, Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujewati mengungkap, tersangka NHJ berhubungan badan dengan anak untuk memenuhi kebutuhan seksualnya.

"Situasi Covid 19 ini, kebetulan suami sudah lama berada di Lombok sementara yang bersangkutan berada di Bima," ungkapnya, dalam keterangan pers, di markas Polda NTB, Kamis (28/1/2021). NHJ kehilangan akal sehat lalu menyetubuhi anak laki lakinya berinisial RFR (3). Diketahui, RFR merupakan anak kedua yang lahir dari rahimnya.

NHJ merekam adegan tak pantas itu kemudian mengirimkannya kepada suami yang tinggal bersama istri pertama di Lombok. Tujuannya untuk memberitahukan kepada suami dia ingin diberi nafkah batin. "Detail perbuatan pelaku tidak bisa kami ungkap karena menyangkut anak," kata Pujewati.

Berdasarkan pemeriksaan, NHJ diketahui merupakan istri kedua yang tinggal di Bima. Sementara suami sehari hari bekerja di Lombok. Selama pandemi Covid 19 tahun 2020, mereka cukup lama tidak bisa bertemu karena jalur transportasi ditutup sementara.

Sebelum pandemi, sang suami masih bisa pulang pergi antara rumah istri pertama di Lombok dan istri kedua di Bima. Tapi sejak pandemi Covid 19, suami tidak bisa lagi bolak balik Lombok Bima. Di sanalah awal mula insiden pelecehan itu dilakukan tersangka.

"Pada saat peristiwa sekitar bulan Juni 2020, korban masih berusia 2 tahun," katanya. "Dari rekam digitalnya sudah kita pastikan terjadi peristiwa seperti disangkakan. Tersangka kita kenakan pasal persetubuhan dan atau pencabulan terhadap anak," tegasnya. Terkait kemungkinan pelaku melakukan perbuatanya berkali kali, penyidik masih melakukan pengembangan.

"Sejauh ini pelaku mengaku hanya sekali," katanya. NHJ dijerat dengan Pasal 81 ayat (3) dan atau Pasal 82 ayat (2) Undang Undang (UU) RI Nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun ditambah sepertiga, dan denda paling banyak Rp 5 miliar. Dalam keterangan pers, pelaku hanya tertunduk dan menangis. NHJ tidak mau menjawab pertanyaan wartawan.

Wanita asal Desa Tambe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini tidak menjawab sepatah kata pun pertanyaan wartawan yang hadir dalam gelar perkara itu. NHJ hanya menunduk dan menutup wajahnya dengan kain jilbabnya. Sesekali terdengar suara isak tangis perempuan paruh baya ini.

Petugas kepolisian pun segera menenangkan dengan membawa tersangka ke lokasi terpisah dengan wartawan. "Dia tidak menjawab artinya tidak mau," sela Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto, saat keterangan pers, Kamis (28/1/2021). Kasubdit IV Remaja Anak Wanita, Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujewati menjelaskan, dalam kasus itu Polda NTB bisa melakukan upaya lebih dalam upaya pemenuhan terhadap hak hak anak berhadapan dengan hukum.

"Kita juga melibatkan jejaring dan instansi terkait, khususnya dampak pemulihan kondisi psikis korban," jelas Pujewati. Korban, RFR (3), saat ini dititipkan pada keluarga untuk proses pemulihan psikologis anak. Dia juga mendapat pendampingan dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) untuk pemulihan psikologisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *