Kelembaban Udara Pengaruhi Kualitas Garam Produksi Dalam Negeri

Ada sejumlah kendala alami buat Indonesia untuk memproduksi garam dengan mutu kualitas baik. Satu di antaranya adalah tingkat kelembaban yang memengaruhi mutu garam. Guru besar Teknik Kimia dari Universitas Indonesia, Prof Misri Gozan mengatakan, mayoritas wilayah Indonesia memiliki tingkat kelembaban tinggi yang berkisar 50 persen hingga 90 persen. Kondisi tersebut menurutnya, menjadi kendala penguapan air laut dalam memproduksi garam.

“Makin tinggi angka humiditas maka makin sulit melakukan penguapan air laut,” ucapnya dikutip dari Warta Kota, Jumat (19/3/2021). Dia memaparkan, Indonesia dibandingkan dengan negara lain, negara negara Australia, China, dan India diuntungkan dengan tingkat kelembaban yang sangat rendah, yakni berkisar 20 persen hingga 30 persen. “Keuntungan ini digunakan negara tersebut untuk produksi garam,” ujarnya. Dia menjelaskan ada wilayah Indonesia yang cocok untuk menghasilkangaram.

Daerah terbaik untuk produksi garam di lahan terbuka adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalnya provinsi tersebut memiliki tingkat kelembaban yang sangat rendah dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. “Selain tingkat kelembaban, waktu musim kering lebih panjang di NTT,” terangnya.

Dia juga menjelaskan bahwa ada metode pengolahangaramdi Indonesia yang dapat menghasilkangaramuntuk kebutuhan industri. Guna menghasilkangarambermutu, panengarambisa dilakukan setelah lahangaramterbentuk tumpukangaram(salt crystal table) yang cukup tinggi. Pengelolaan dimulai dari penyediaan air baku (air tua) yang bersih untuk menghasilkangaramkadar NaCl lebih dari 96 persen,” terangnya.

Dia menjelaskan mayoritas pengolahan lahangarampada saat ini dilakukan secara tradisional dengan lahan yang sempit. Lahan tersebut digunakan bergantian dengan tambak udang/bandeng hingga sawah padi. Pada saat panen, para petani garam tidak sabar menunggu menuai garam yang masih kotor. Hal ini karena petanigaramterdesak untuk pemenuhan uang untuk kebutuhan rumah tangga, karena umumnya petanigarammenyewa lahan (hutang) dan sudah terikat ijon dengan pihak pihak tertentu.

“Di sisi lain, sering pengijon tidak menghargai pula perbedaan garam baik dengan garam mutu rendah dengan kadar NaCl kurang dari 90 persen,” terangnya. Sementara itu CEO PT Garam, Achmad Ardianto mengatakan petanigarammaupun PT Garam belum dapat menghasilkangaramsecara konsisten untuk kebutuhan industri selain industri aneka pangan. Industri yang dimaksud adalah chlor alkali plant (CAP).

“Cara menghasilkan garam di lokal melalui pertanian melalui cara manual. Sedangkan garam impor dihasilkan dengan proses mekanisasi. Yakni industrialisasi penghasil garam, proses dengan mekanik, masa panen lebih panjang, sehingga mutu lebih konsisten,” ujarnya. (Warta Kota/*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *